

Jl. Plawa No.50, Seminyak, Kec. Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361
CALL US 24/7
(+62-851-7424-6249)
Tersalin!Partner Pembayaran
© 2026 HAK CIPTA CINCHY.
scroll for more! ⟶
Cinchy Blog / 16 Tempat Wisata Bersejarah di Bali untuk Dijelajahi
Diterbitkan: 11 Aug 2026

By Syahrial Maulana Sudarto
Travel Enthusiast

Jawaban Cepat
“What historical destinations in Bali that I need to explore?”
Bali is home to many historical destinations, from ancient archaeological sites and royal palaces to traditional villages, museums, and monuments. The best historical places in Bali reveal different periods of the island’s past, including ancient kingdoms, Balinese royal history, religious heritage, colonialism, and the struggle for independence.
Gratis Pembatalan
Dukungan 24/7
Asuransi
Tanggal Mulai - Tanggal Selesai
Waktu Mulai
Waktu Selesai
Durasi
0 Hari
Poin Penting:
Tempat wisata bersejarah di Bali tidak harus berupa pura kuno.
Warisan sejarah Bali juga mencakup peninggalan arkeologi, kediaman kerajaan, prasasti kuno, desa tradisional, museum, serta monumen yang berkaitan dengan berbagai peristiwa penting.
Hal inilah yang membuat Bali menarik bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah.
Anda dapat mengunjungi kompleks arkeologi dari abad ke-11 pada pagi hari, melihat bekas istana kerajaan pada sore hari, lalu mempelajari sejarah perjuangan kemerdekaan Bali di hari yang sama.
Cultural Landscape of Bali yang ditetapkan UNESCO mencakup lima kawasan dengan luas total sekitar 19.500 hektare, sementara sistem irigasi subak di Bali telah ada setidaknya sejak abad ke-9.
Hal ini menunjukkan bahwa sejarah Bali tidak hanya berkaitan dengan monumen, tetapi juga dengan pertanian, agama, masyarakat, dan lanskap pulau ini.
Goa Gajah, yang juga dikenal sebagai Elephant Cave, merupakan salah satu situs arkeologi paling terkenal di Bali.
Kompleks ini memiliki gua kuno, pahatan batu, kolam pemandian, arca, serta berbagai peninggalan arkeologi lainnya.
Situs ini umumnya dikaitkan dengan warisan Hindu-Buddha Bali pada masa lampau dan secara tradisional diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-11.
Jika Anda masih ragu tentang langkah selanjutnya, jangan khawatir — kami siap membantu menjawab semua pertanyaan dan kekhawatiran Anda.
There is no single “oldest” historical destination in Bali, but Gunung Kawi, Goa Gajah, and Blanjong Inscription are among the most significant sites for exploring ancient Bali. Blanjong Inscription, for example, is dated to 913 CE, while Gunung Kawi is associated with Bali’s early 11th-century royal period.
Some of the best ancient sites in Bali include Gunung Kawi, Goa Gajah, Yeh Pulu, Tebing Tegallinggah, and Pura Penataran Sasih. These archaeological sites provide insight into ancient Balinese religion, royal history, architecture, inscriptions, and everyday life.
Bali Museum in Denpasar is one of the best places to start if you want an overview of Balinese history and culture. For a more immersive experience, visit archaeological sites such as Gunung Kawi and Goa Gajah, royal heritage sites such as Kerta Gosa, and historical monuments such as Bajra Sandhi.
For royal history, consider Kerta Gosa and Klungkung Palace, Ubud Palace, Taman Ujung Water Palace, Tirta Gangga Water Palace, and Pura Taman Ayun. These destinations are connected to Bali’s former kingdoms and offer examples of royal architecture, gardens, water systems, and religious traditions.
Many historical temples and archaeological sites in Bali can be visited by tourists, but access varies. Some are active places of worship, so visitors should follow local rules, dress appropriately, and avoid restricted areas or ceremonies when requested. Always check the latest visitor information before traveling.
Yes, if you group destinations by location. For example, Goa Gajah, Yeh Pulu, Tebing Tegallinggah, and Pura Penataran Sasih can form an archaeology-focused route around Gianyar and Pejeng. For East Bali, you can combine destinations such as Taman Ujung and Tirta Gangga with other nearby attractions.
Perpaduan antara arsitektur keagamaan dan peninggalan arkeologi membuat Goa Gajah menjadi salah satu tempat terbaik untuk mengenal Bali kuno.
Gunung Kawi merupakan salah satu situs arkeologi kuno paling mengesankan di Bali.
Kompleks ini memiliki sepuluh candi yang dipahat langsung pada tebing batu di sepanjang Sungai Pakerisan.
Situs ini berkaitan dengan periode kerajaan Bali kuno.
Catatan arkeologi pemerintah menghubungkan kawasan Pakerisan dengan prasasti bertahun 1022 dan 1023 Masehi, sementara beberapa candinya secara tradisional dikaitkan dengan Raja Udayana dan keturunannya.
Yeh Pulu menawarkan sesuatu yang berbeda dari banyak pura bersejarah di Bali: gambaran mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa lampau.
Relief batu yang memiliki panjang sekitar 25 meter ini menggambarkan aktivitas manusia, tokoh keagamaan, dan berbagai adegan yang memberikan gambaran mengenai kehidupan di Bali pada masa berabad-abad lalu.
Situs ini ditemukan kembali pada 1925 dan kemudian diteliti oleh Dutch Colonial Archaeological Bureau.
Tebing Tegallinggah merupakan situs arkeologi yang relatif kurang dikenal dan berada tidak jauh dari sejumlah destinasi bersejarah lainnya di kawasan Bedulu.
Peninggalan yang dipahat pada batu membuat tempat ini menarik bagi wisatawan yang ingin melihat sisi sejarah Bali di luar pura-pura yang sudah populer.
Tebing Tegallinggah juga dapat dikunjungi bersama Goa Gajah dan Yeh Pulu untuk membuat rute wisata sejarah di sekitar Gianyar dalam satu hari.
Pura Besakih, yang sering disebut sebagai Mother Temple of Bali, merupakan kompleks pura terbesar di Bali sekaligus salah satu situs warisan keagamaan terpenting di pulau ini.
Nilai sejarahnya tidak hanya terletak pada lokasinya yang spektakuler di lereng Gunung Agung.
Kompleks ini mencerminkan perkembangan panjang tradisi Hindu Bali dan hingga kini masih menjadi tempat suci yang aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan.
Pura Taman Ayun dibangun sebagai pura kerajaan dari Kerajaan Mengwi dan merupakan salah satu contoh penting dari tradisi pura air suci kerajaan di Bali.
Pura ini juga menjadi bagian dari Cultural Landscape of Bali yang ditetapkan UNESCO.
UNESCO mengidentifikasi Taman Ayun sebagai Royal Water Temple dari abad ke-18, sementara lanskap subak yang lebih luas menunjukkan tradisi pengelolaan air yang telah ada setidaknya sejak abad ke-9.
Kerta Gosa merupakan salah satu tempat terbaik untuk mengenal sejarah kerajaan Bali.
Tempat ini dahulu merupakan bagian dari kompleks kerajaan Klungkung dan dikenal dengan lukisan tradisional yang menggambarkan kisah moral, keadilan, serta konsekuensi dari tindakan manusia.
Puri Agung Klungkung yang berada di dekatnya memberikan konteks tambahan mengenai sejarah Kerajaan Klungkung dan perkembangan politik kerajaan di Bali.
Taman Ujung Water Palace dikembangkan oleh keluarga kerajaan Karangasem dan memadukan tradisi arsitektur Bali dengan pengaruh arsitektur Eropa.
Kolam, jembatan, taman, dan bangunan bekas kerajaan membuatnya menjadi salah satu tempat wisata bersejarah paling khas di Bali bagian timur.
Tempat ini sangat cocok bagi Anda yang tertarik dengan arsitektur kerajaan dan sejarah Kerajaan Karangasem.
Tirta Gangga merupakan destinasi warisan kerajaan lainnya yang berada di Karangasem.
Kompleks ini dikembangkan oleh keluarga kerajaan Karangasem dan berpusat pada unsur air, taman, air mancur, kolam, serta elemen arsitektur Bali.
Berbeda dengan museum sejarah pada umumnya, Tirta Gangga memungkinkan Anda menikmati warisan kerajaan melalui lanskap dan arsitekturnya secara langsung.
Ubud Palace atau Puri Saren Agung memiliki kaitan erat dengan keluarga kerajaan Ubud serta perkembangan Ubud sebagai salah satu pusat seni dan budaya Bali.
Lokasinya yang berada di pusat Ubud juga membuatnya menjadi salah satu destinasi bersejarah yang mudah dimasukkan ke dalam itinerary, terutama jika Anda ingin melakukan day trip ke Ubud.
Mengunjungi istana ini bersama berbagai atraksi budaya di sekitarnya dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai warisan kerajaan dan perkembangan seni Ubud.
Tenganan merupakan salah satu tempat terbaik untuk melihat living cultural heritage di Bali.
Alih-alih berfokus pada satu bangunan atau monumen, desa ini mempertahankan pola permukiman tradisional, arsitektur, adat istiadat, serta berbagai praktik kehidupan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Desa ini dikenal dengan tradisi Bali Aga, sehingga sangat menarik bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya tradisional Bali dan warisan budaya yang telah ada sebelum pengaruh Majapahit berkembang di Bali.
Bali Museum merupakan salah satu destinasi terbaik bagi Anda yang ingin memahami sejarah Bali melalui koleksi artefak, bukan hanya melalui situs arkeologi.
Koleksinya mencakup berbagai aspek budaya Bali, kehidupan tradisional, seni, arkeologi, dan perkembangan sejarah.
Mengunjungi museum ini juga dapat membantu memberikan konteks sebelum Anda menjelajahi berbagai tempat wisata bersejarah lainnya di Bali.
Bajra Sandhi Monument memiliki peran penting dalam memahami sejarah Bali pada periode yang lebih modern.
Monumen ini mengenang perjuangan masyarakat Bali melawan kolonialisme dan memiliki diorama serta berbagai artefak sejarah.
Berbeda dari situs arkeologi kuno, Bajra Sandhi membantu menghubungkan sejarah panjang Bali dengan masa kolonial dan perjuangan menuju kemerdekaan.
Prasasti Blanjong merupakan salah satu prasasti arkeologi paling penting dalam sejarah Bali.
Prasasti batu ini berada di Pura Blanjong, Sanur, dan ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno serta Pranagari, dengan unsur bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta.
Prasasti ini bertanggal Saka 835, atau setara dengan tahun 913 Masehi, dan menyebut nama Raja Sri Kesari Warmadewa, salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Bali.
Pura Penataran Sasih merupakan pura bersejarah penting yang berada di kawasan Pejeng, salah satu wilayah dengan kekayaan situs arkeologi paling menarik di Bali.
Pura ini terutama dikenal karena kaitannya dengan berbagai artefak kuno dan sejarah keagamaan yang panjang di kawasan tersebut.
Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Bali kuno, Pura Penataran Sasih dapat dikunjungi bersama Goa Gajah, Yeh Pulu, dan berbagai situs arkeologi lainnya di sekitar Gianyar.
Penglipuran lebih tepat dipahami sebagai destinasi living heritage daripada peninggalan arkeologi.
Rumah-rumah tradisional, tata ruang desa, adat masyarakat, serta lingkungan desa yang terus dijaga memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Bali mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tempat ini cocok jika Anda ingin melihat arsitektur tradisional Bali dan kehidupan budaya masyarakat secara langsung, sekaligus mengunjungi destinasi bersejarah yang berbeda dari situs-situs kuno pada umumnya.
Salah satu acara yang patut Anda kunjungi saat berada di Penglipuran adalah Penglipuran Village Festival.
Pilihan terbaik bergantung pada jenis sejarah yang ingin Anda eksplorasi:
| Jika Anda ingin mengeksplorasi... | Kunjungi... |
| Arkeologi kuno | Gunung Kawi |
| Relief batu kuno | Yeh Pulu |
| Sejarah awal Bali | Prasasti Blanjong |
| Warisan kerajaan | Kerta Gosa |
| Istana air kerajaan | Taman Ujung atau Tirta Gangga |
| Warisan UNESCO | Pura Taman Ayun |
| Koleksi museum | Bali Museum |
| Sejarah kolonial dan kemerdekaan | Bajra Sandhi |
| Kehidupan desa tradisional | Tenganan |
| Arsitektur tradisional | Penglipuran |
Sejarah Bali tidak tersimpan hanya di satu museum.
Warisan tersebut tersebar di berbagai situs arkeologi, kompleks kerajaan, pura, prasasti, desa tradisional, lanskap pertanian, dan monumen.
UNESCO mencatat bahwa Bali memiliki sekitar 1.200 kelompok pengelola air, dengan masing-masing kelompok subak umumnya mengatur pasokan air untuk sekitar 50 hingga 400 petani.
Sistem yang masih hidup ini menunjukkan bahwa warisan Bali tetap terhubung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, bukan hanya berupa peninggalan yang disimpan sebagai monumen.
Bagi wisatawan, hal ini membuat wisata sejarah di Bali lebih dari sekadar daftar tempat yang perlu dikunjungi. Setiap destinasi menceritakan bagian yang berbeda dari perjalanan sejarah pulau ini.

Jika Anda berencana mengunjungi beberapa tempat wisata bersejarah di Bali, Cinchy dapat menjadi pilihan praktis untuk menyewa motor selama berada di Bali.
Kategori Compact mencakup Honda Scoopy, Yamaha Fazzio, dan Honda Vario, dengan harga sewa mulai dari IDR 95K/hari. Sementara itu, kategori Comfort mencakup Yamaha NMAX dan Honda PCX, dengan harga mulai dari IDR 155K/hari.
Motor yang tersedia dirawat secara rutin, dan Anda dapat memilih durasi sewa mulai dari harian hingga bulanan sesuai dengan itinerary perjalanan.
Cinchy juga membuat proses penyewaan lebih praktis dengan layanan customer support 24/7 serta opsi delivery dan pickup yang berfokus pada area Seminyak dan I Gusti Ngurah Rai International Airport.
Jika Anda melakukan booking lebih awal, gunakan kode EARLY5 untuk mendapatkan diskon 5% dari harga sewa.
Persyaratan sewanya juga sederhana: KTP yang masih berlaku, SIM C yang masih berlaku, tiket pesawat pulang-pergi, serta bukti booking hotel yang mencakup seluruh periode sewa.
Perlengkapan dasar yang sudah termasuk dalam penyewaan antara lain helm, hair net, phone holder, dan jas hujan. Anda juga dapat memilih opsi asuransi Basic, Full Coverage, atau VIP sesuai kebutuhan.