

Jl. Plawa No.50, Seminyak, Kec. Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361
CALL US 24/7
(+62-851-7424-6249)
Tersalin!Bantuan & Dukungan
Partner Pembayaran
© 2026 HAK CIPTA CINCHY.
scroll for more! ⟶
Cinchy Blog / Pura Petitenget: Sejarah, Daya Tarik, & Harga Tiket
Diterbitkan: 11 Feb 2026

By Syahrial Maulana Sudarto
Travel Enthusiast

Gratis Pembatalan
Dukungan 24/7
Asuransi
Tanggal Mulai - Tanggal Selesai
Waktu Mulai
Waktu Selesai
Durasi
0 Hari
Seminyak dikenal luas sebagai pusat gaya hidup modern di Bali. Di kawasan ini, butik kelas atas, beach club ternama, dan resor bintang lima berjajar di sepanjang jalan.
Namun, di balik hiruk-pikuk nuansa kosmopolitan tersebut, terdapat sebuah tempat suci yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad: Pura Petitenget.
Jika Anda sedang merencanakan liburan ke Bali, khususnya di area Kuta atau Seminyak, pura ini layak masuk dalam daftar kunjungan.
Pura Petitenget menawarkan gambaran mendalam tentang identitas Bali sebagai Pulau Dewata, sekaligus menjadi pengingat akan kuatnya tradisi spiritual yang mengakar di sini.
Dalam panduan ini, Anda akan menemukan informasi lengkap tentang Pura Petitenget, mulai dari legenda mistis yang menyelimutinya hingga tips praktis sebelum berkunjung.

credit: Google Maps - Pura Petitenget (Dang Kahyangan Jagat) | Shot by Jonique Life
Pura Petitenget adalah pura laut Hindu Bali yang dibangun pada abad ke-16 dan terletak tepat di jantung kawasan Seminyak.
Meski sebagian besar wisatawan datang ke area ini untuk menikmati pantai, selancar, dan kehidupan malam, pura ini tetap menjadi salah satu landmark spiritual terpenting di pesisir barat Bali.
Pura ini diklasifikasikan sebagai Pura Dang Kahyangan, yaitu pura yang dibangun untuk menghormati perjalanan suci para pendeta besar.
Secara khusus, Pura Petitenget merupakan bagian dari rangkaian pura laut yang membentang di sepanjang pesisir Bali, termasuk Pura Tanah Lot dan Pura Uluwatu.
Rangkaian pura tersebut dipercaya berfungsi sebagai pelindung spiritual pulau Bali dari energi negatif dan roh jahat yang datang dari Samudra Hindia.
Meski Seminyak telah berubah dari kawasan hutan yang tenang menjadi destinasi wisata kelas dunia, Pura Petitenget tetap berfungsi sebagai tempat ibadah aktif.
Anda masih dapat melihat warga lokal mengenakan kebaya dan saput sambil membawa canang sari berwarna-warni, menjaga tradisi leluhur tetap hidup di tengah kemewahan modern.
Sejarah Pura Petitenget sarat dengan nuansa mistis, sejalan dengan aura sakral yang dimilikinya.
Asal-usul pura ini diperkirakan bermula sekitar tahun 1549, bertepatan dengan perjalanan spiritual pendeta besar asal Jawa, Dang Hyang Nirartha (juga dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh).
Nama “Petitenget” sendiri menyimpan kisah yang kuat:
Konon, ketika Dang Hyang Nirartha tiba di kawasan ini yang saat itu masih berupa hutan lebat, beliau meninggalkan sebuah wadah sirih yang bersifat sakral (peti).
Ia kemudian memerintahkan sesosok raksasa spiritual bernama Buto Ijo untuk menjaga peti tersebut.
Namun, Buto Ijo menjalankan tugasnya dengan sangat berlebihan. Siapa pun yang mendekati area tersebut akan jatuh sakit secara misterius, hingga akhirnya wabah menyebar di kalangan penduduk setempat.
Untuk mengakhiri penderitaan tersebut, Dang Hyang Nirartha menginstruksikan warga membangun sebuah pura di lokasi itu sebagai bentuk peneduh dan penyeimbang energi spiritual.
Setelah Pura Petitenget berdiri, wabah pun menghilang dan kedamaian kembali tercipta.
Hingga kini, pura ini dipersembahkan kepada beberapa manifestasi suci, termasuk Dewi Sri, dewi kesuburan, serta roh Dang Hyang Nirartha sendiri.

credit: Instagram @elcoriano71
Meski tidak sebesar Pura Besakih, Pura Petitenget memiliki pesona tersendiri yang membuatnya terasa tenang, sakral, dan sangat fotogenik.
Berbeda dengan banyak pura lain yang didominasi batu andesit abu-abu, Pura Petitenget terkenal dengan penggunaan bata merah dan batu pasir. Nuansa ini menciptakan kesan hangat dan klasik, seolah membawa Anda kembali ke Bali tempo dulu.
Gerbang utama pura berupa candi bentar dengan ukiran detail dan patung naga yang menjaga anak tangga. Area ini menjadi spot favorit untuk berfoto dengan tetap menjaga sikap hormat.
Di dalam area pura, Anda akan menemukan beberapa meru (pelinggih bertingkat) dan paviliun kecil.
Saat upacara berlangsung, bangunan-bangunan ini dihiasi wastra atau kain adat, menciptakan perpaduan warna hitam, putih, dan emas yang memikat.
Jika beruntung, Anda dapat menyaksikan ritual Melasti atau perayaan Odalan yang digelar setiap 210 hari.
Suasana pura akan dipenuhi aroma dupa, alunan gamelan, dan nuansa spiritual yang sangat kuat.
Karena lokasinya hanya beberapa langkah dari Pantai Petitenget, banyak pengunjung datang pada sore hari.
Setelah menjelajahi sisi spiritual pura, Anda bisa berjalan santai ke pantai untuk menikmati sunset khas Bali.
Sebelum melanjutkan, Anda juga bisa membaca artikel terkait berikut untuk memperkaya pengalaman budaya Anda:
Baca Juga:
Panduan Etika Mengunjungi Pura di Bali untuk Wisatawan
4 Pura di Seminyak Bali untuk Eksplorasi Budaya
8 Hal yang Harus Dihindari di Bali untuk Liburan Aman & Nyaman
Ini Aturan Hukum dan Norma Budaya di Bali yang Perlu Ditaati
Apa Itu Canang Sari, Sejarah, dan Fungsinya
Berkunjung ke Pura Petitenget tergolong sangat terjangkau. Harga tiket masuknya sekitar Rp50.000 per orang.
Biaya ini umumnya dianggap sebagai donasi untuk pemeliharaan dan perawatan pura.
Pembayaran dilakukan secara tunai di loket masuk (yang juga digunakan sebagai area parkir pantai). Pembayaran non-tunai biasanya tidak tersedia.
Harga tiket tersebut biasanya sudah termasuk peminjaman kamen (sarung) dan selendang bagi pengunjung yang tidak mengenakan pakaian adat yang sesuai, meskipun membawa sendiri tetap lebih disarankan.
Pura Petitenget berlokasi di Jalan Petitenget, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Letaknya sangat strategis, tepat di dekat pantai dan spot terkenal seperti La Lucciola serta Potato Head Beach Club.
Pura ini umumnya terbuka untuk kunjungan wisata dari pukul 07.00 hingga 18.00 WITA. Namun, untuk keperluan sembahyang, area pura dapat diakses selama 24 jam.
Kemacetan di Seminyak sudah menjadi “legenda” tersendiri. Meski Anda bisa menggunakan taksi, cara paling efisien untuk menjelajahi gang-gang sempit dan menghindari macet adalah menggunakan motor.
Berikut perkiraan jarak dan waktu tempuh dengan motor:
| Dari | Jarak | Perkiraan Waktu |
| Kuta | 7,6 km | 15–20 menit |
| Canggu | 8 km | 20–30 menit |
| Denpasar | 15 km | ±25 menit |
| Ubud | 30 km | ±1 jam 30 menit |
| Bandara (DPS) | 13 km | 35–45 menit |

Agar perjalanan Anda ke Pura Petitenget dan area Seminyak terasa lebih praktis dan bebas ribet, menyewa motor adalah pilihan yang sangat direkomendasikan.
Cinchy menyediakan layanan sewa motor profesional dan tepercaya, dirancang khusus untuk wisatawan yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan.
Kenapa memilih Cinchy?
Fasilitas yang didapatkan:
Syarat sewa yang praktis:
Butuh motor di Bali secepatnya? Sewa motor di Cinchy sekarang dengan klik link ini!