

Jl. Plawa No.50, Seminyak, Kec. Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361
CALL US 24/7
(+62-851-7424-6249)
Tersalin!Partner Pembayaran
Β© 2026 HAK CIPTA CINCHY.
scroll for more! βΆ
Cinchy Blog / Lokasi Syuting Eat, Pray, Love di Bali yang Wajib Dikunjungi
Diterbitkan: 18 Aug 2026

By Syahrial Maulana Sudarto
Travel Enthusiast

Jawaban Cepat
βWhere is the real βEat, Pray, Loveβ location in Bali?β
The real Eat, Pray, Love locations in Bali include Tegallalang Rice Terraces, Ubud Art Market, Ketut Liyer's house in Pengosekan, and Padang Padang Beach. Other places connected to the production include Penestanan, Ungasan, and the Batur area. Some famous spots, however, were planned but never filmed, while the movie's beach bar was a temporary set.
Gratis Pembatalan
Dukungan 24/7
Asuransi
Tanggal Mulai - Tanggal Selesai
Waktu Mulai
Waktu Selesai
Durasi
0 Hari
Poin Penting:

Tegallalang Rice Terraces merupakan salah satu lokasi syuting Eat, Pray, Love di Bali yang paling mudah dikenali.
Hamparan sawah bertingkat yang hijau menjadi bagian dari perjalanan Liz Gilbert saat menikmati kehidupan di Bali, termasuk adegan yang memperlihatkan dirinya bersepeda menyusuri pedesaan Bali.
Lokasinya berada di utara Ubud dan terkenal dengan persawahan bertingkat, pemandangan tropis, serta lanskap pertanian tradisional Bali.
Suasana yang terlihat tenang dalam film memang menjadi salah satu daya tariknya, meskipun kondisi Tegallalang sekarang jauh lebih ramai sebagai destinasi wisata.
Jika Anda ingin menikmati sawah terasering di Bali yang satu ini dengan suasana yang lebih santai, datanglah pada pagi hari.
Anda dapat berjalan menyusuri area persawahan, menikmati pemandangan dari kafe di sekitarnya, atau melanjutkan perjalanan melalui jalan-jalan kecil di desa sekitar.
Sawah yang Anda lihat memang nyata, tetapi jangan berharap suasananya persis seperti di film.
Tegallalang kini jauh lebih populer dan ramai. Datang lebih pagi menjadi salah satu cara terbaik untuk mendapatkan pengalaman yang lebih tenang.

Ubud Art Market, yang juga dikenal sebagai Pasar Seni Ubud, merupakan lokasi lain yang cukup dikenal dalam Eat, Pray, Love.
Pasar ini berada tepat di seberang Ubud Palace dan memperlihatkan sisi Ubud yang penuh warna, dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Anda akan menemukan berbagai pakaian, sarong, kerajinan tangan, souvenir, karya seni, dan produk lokal lainnya.
Jika Anda sedang mengikuti jejak perjalanan Liz di Bali, lokasi ini juga mudah digabungkan dengan Ubud Palace dan sejumlah tempat wisata lain di pusat Ubud.
Jika tujuan Anda hanya ingin melihat lokasi dan berkeliling pasar, sekitar satu jam sudah cukup. Namun, Anda bisa menghabiskan waktu lebih lama jika ingin berbelanja.
Datang lebih pagi juga menjadi pilihan yang baik jika Anda ingin menghindari keramaian. Setelah itu, Anda dapat melanjutkan perjalanan menuju lokasi Eat, Pray, Love lainnya di sekitar Ubud.
Jika Anda ingin menjelajahi Ubud selama satu hari, Anda juga bisa melihat panduan kami: Itinerary Sehari di Ubud [Panduan 2026].
Jika berbicara tentang lokasi Eat, Pray, Love di Ubud, rumah Ketut Liyer menjadi salah satu tempat dengan hubungan paling kuat terhadap cerita film ini.
Produksi film menggunakan rumah asli Ketut untuk beberapa adegan, termasuk interaksi Liz dengan Ketut, palm reading, yoga, meditasi, serta aktivitas yang berkaitan dengan lontar.
Ketut Liyer sendiri menjadi terkenal di seluruh dunia setelah kisah Elizabeth Gilbert memperkenalkan sosoknya kepada jutaan pembaca.
Namun, ada satu hal yang sering membingungkan penggemar film: Ketut Liyer yang asli bukan aktor yang memerankan Ketut dalam film.
Dalam film, karakter Ketut diperankan oleh aktor Indonesia, Hadi Subiyanto.
Ketut Liyer meninggal pada 2016, sehingga pengalaman yang mungkin Anda temukan sekarang tentu berbeda dengan masa ketika film tersebut sedang populer.
Selain itu, rumah ini bukan sekadar objek wisata biasa.
Jika Anda berencana datang, pastikan terlebih dahulu apakah tempat tersebut dapat dikunjungi dan tetap menghormati privasi keluarga maupun masyarakat setempat.
Wayan Nuriasih adalah sosok nyata lain dari perjalanan Elizabeth Gilbert di Bali.
Tempat praktik pengobatan tradisionalnya menjadi salah satu lokasi Eat, Pray, Love di Ubud yang memiliki hubungan kuat dengan perjalanan Liz.
Dalam cerita, Wayan merupakan teman Liz sekaligus traditional healer yang membantu Liz ketika mengalami infeksi pada lututnya menggunakan pengobatan tradisional Bali.
Berbeda dengan Ketut Liyer, karakter Wayan dalam film diperankan oleh aktris Indonesia Christine Hakim. Tempat praktik Wayan juga tidak terlihat seperti objek wisata konvensional.
Justru di situlah daya tariknya: tempat ini merupakan praktik pengobatan lokal, bukan atraksi wisata yang sengaja dibuat untuk penggemar Eat, Pray, Love.
Dalam film, Liz mendatangi Wayan setelah mengalami luka yang terinfeksi.
Wayan kemudian menggunakan pengobatan tradisional dan memperkenalkan Liz pada sisi lain dari Balinese healing serta kehidupan masyarakat Bali.
Peran Wayan juga penting dalam cerita karena ia bukan hanya seseorang yang ditemui Liz selama perjalanan.
Ia kemudian menjadi salah satu teman terdekat Liz di Bali dan merepresentasikan bagian βLoveβ dalam perjalanan Liz melalui persahabatan, kepedulian, dan rasa kebersamaan.
Karena tempat ini merupakan praktik lokal, bukan objek wisata biasa, sebaiknya Anda memastikan terlebih dahulu apakah tempat tersebut menerima pengunjung sebelum datang.

Pantai Padang Padang di kawasan Bukit Peninsula merupakan salah satu lokasi syuting Eat, Pray, Love di Bali yang paling terkenal.
Adegan pantai yang melibatkan Liz dan Felipe direkam di sini, sehingga tempat ini menjadi salah satu destinasi penting bagi penggemar film.
Pantainya sendiri benar-benar ada. Anda akan menemukan sebuah teluk kecil yang dikelilingi tebing, dengan akses masuk melalui celah sempit sebelum akhirnya terbuka menuju pasir dan laut.
Namun, ada satu detail film yang perlu Anda ketahui.
Bar tempat Liz dan Felipe bertemu dibuat sebagai temporary movie set khusus untuk kebutuhan produksi film.
Jadi, jika Anda datang sekarang, Anda memang bisa berdiri di pantai yang sama, tetapi jangan berharap menemukan bar ikonik seperti yang terlihat di film.
Sediakan setidaknya satu hingga dua jam jika Anda ingin menikmati pantainya, bukan sekadar berfoto dan langsung pergi.
Penestanan merupakan salah satu lokasi yang menarik karena menunjukkan bahwa proses produksi Eat, Pray, Love sebenarnya berlangsung di area yang lebih luas daripada daftar destinasi populer yang sering muncul di artikel wisata.
Sejumlah laporan pada masa produksi menyebut bahwa pengambilan gambar berlangsung di Penestanan setelah rencana syuting di Monkey Forest dan Campuhan Bridge dibatalkan.
Laporan yang sama juga menyebut Ubud, Pecatu, dan Ungasan sebagai area yang digunakan dalam proses produksi.
Penestanan sendiri merupakan kawasan desa di dekat Ubud yang dikelilingi persawahan dan memiliki suasana yang lebih tenang.
Jadi, tempat ini lebih tepat dipandang sebagai area produksi yang berkaitan dengan film daripada objek wisata resmi Eat, Pray, Love.
Bagi Anda yang ingin melihat sisi Ubud yang lebih tenang dan tidak terlalu ramai wisatawan, Penestanan bisa menjadi detour yang menarik.

Kawasan Batur menawarkan sisi lain dari Eat, Pray, Love yang sering terlewatkan dalam panduan lokasi syuting yang lebih sederhana.
Penelitian dari Institut Seni Indonesia Denpasar mengidentifikasi Lava Tumuli Batur dan tepian Danau Batur sebagai bagian dari setting Bali yang berkaitan dengan buku dan film tersebut.
Pemandangannya juga sangat berbeda dari Ubud. Jika Ubud identik dengan sawah, pepohonan tropis, dan suasana pedesaan, kawasan Batur menawarkan lanskap vulkanik, Lake Batur, serta pemandangan Mount Batur di sekitar Kintamani.
Namun, kondisi lanskapnya juga dapat berubah seiring waktu.
Pillow Lava Geosite yang dikaitkan dengan pengambilan gambar Julia Roberts telah mengalami perubahan, dengan sebagian formasi lava kini berada di bawah permukaan air danau.
Karena itu, jika Anda ingin memasukkan kawasan Batur ke dalam itinerary Eat, Pray, Love, anggaplah ini sebagai perjalanan tambahan, bukan sekadar persinggahan singkat.
Ungasan di Bali Selatan juga menjadi salah satu area yang berkaitan dengan proses produksi film. Laporan dari masa produksi menyebut Ungasan bersama Ubud dan Pecatu sebagai area yang digunakan selama proses syuting di Bali.
Berbeda dengan Padang Padang Beach, tidak ada satu landmark di Ungasan yang secara universal dikenal sebagai tempat untuk mengulang adegan tertentu dari film.
Karena itu, lebih tepat menganggap Ungasan sebagai bagian dari area produksi Eat, Pray, Love daripada destinasi utama untuk napak tilas film.
Anda bisa menggabungkannya dengan destinasi Bali Selatan lainnya, terutama jika sudah merencanakan perjalanan ke Padang Padang Beach atau Uluwatu.

Bagian ini menarik karena informasi tentang lokasi syuting Eat, Pray, Love di internet tidak selalu membedakan antara lokasi yang benar-benar digunakan dan lokasi yang awalnya direncanakan untuk produksi.
Monkey Forest dan Campuhan Suspension Bridge sering disebut sebagai lokasi Eat, Pray, Love.
Namun, laporan pada masa produksi menyebut bahwa rencana syuting di kedua lokasi tersebut dibatalkan, salah satunya karena masalah pencahayaan. Pengambilan gambar kemudian dipindahkan ke Penestanan.
Jadi, jangan langsung menganggap keduanya sebagai confirmed filming locations.
Meski begitu, Anda tetap bisa mengunjungi Monkey Forest atau berjalan-jalan di kawasan Campuhan karena keduanya merupakan tempat menarik untuk dikunjungi di Ubud. Hanya saja, datanglah bukan dengan ekspektasi bahwa Anda sedang berdiri di lokasi adegan film yang benar-benar digunakan.
Karena lokasi-lokasi ini tersebar di berbagai wilayah Bali, Anda perlu mengatur rute dengan baik agar perjalanan tidak terasa terburu-buru.
Gabungkan Tegallalang Rice Terraces, Ubud Art Market, dan kawasan Pengosekan dalam satu rute perjalanan.
Jadikan Padang Padang Beach sebagai bagian dari itinerary Bali Selatan, bukan dipaksakan ke dalam rute Ubud yang sama.
Lake Batur dan Kintamani sebaiknya dijadikan perjalanan tersendiri jika Anda punya waktu lebih. Memaksakannya ke itinerary satu hari dapat membuat perjalanan terlalu padat.
Menggunakan motor memberi Anda lebih banyak fleksibilitas untuk berpindah dari jalan-jalan kecil di Ubud menuju destinasi yang lebih jauh. Namun, pastikan Anda memiliki dokumen berkendara yang sesuai dan memang percaya diri berkendara di lalu lintas Bali.

Untuk itinerary yang mencakup beberapa wilayah Bali, Comfort dari Cinchy, yang terdiri dari Yamaha NMAX dan Honda PCX, cocok bagi Anda yang menginginkan pengalaman berkendara yang lebih nyaman untuk perjalanan yang lebih jauh.
Harganya mulai dari IDR 155K/hari, IDR 125K/hari untuk sewa mingguan, dan IDR 80K/hari untuk sewa bulanan.
Cinchy juga menawarkan proses sewa yang praktis dengan motor yang dirawat secara rutin, customer support 24/7, serta layanan delivery dan pickup di beberapa area Bali.
Pengantaran dan pickup tersedia gratis di Seminyak, I Gusti Ngurah Rai Airport, Kuta, dan Legian.
Jika Anda booking setidaknya satu bulan sebelumnya, gunakan kode EARLY5 untuk mendapatkan diskon 5%.
π Sewa motor di Cinchy sekarang, pesan lebih awal dan hemat 5% dengan kode promo EARLY5!
Jika Anda masih ragu tentang langkah selanjutnya, jangan khawatir β kami siap membantu menjawab semua pertanyaan dan kekhawatiran Anda.
Eat, Pray, Love was filmed in several parts of Bali, with major locations including Ubud, Tegallalang, and Padang Padang Beach. The production also filmed in areas such as Bentuyung, Ungasan, Penestanan, and the Batur area.
Yes. Several major locations can still be visited, including Tegallalang Rice Terraces, Ubud Art Market, and Padang Padang Beach. Other locations, such as private properties associated with Ketut Liyer and Wayan Nuriasih, may have different access arrangements, so visitors should verify current availability and respect local privacy.
Wayan Nuriasih's traditional healing practice was associated with Jl. Jembawan in Ubud. Contemporary reporting from the film's production identified Wayan as the owner of a traditional Balinese medicine shop on Jl. Jembawan. Current access and operating arrangements should be confirmed before visiting.
Ketut Liyer's house is in Banjar Pengosekan, Ubud, where the production filmed scenes at his real home. The movie's Ketut, however, was portrayed by actor Hadi Subiyanto rather than the real Ketut Liyer.
No. The beach is real, and the beach scenes were filmed at Padang Padang Beach, but the bar where Liz and Felipe meet was constructed specifically as a temporary movie set. It is therefore not a permanent Eat, Pray, Love attraction you can visit today.
You can visit several of the main locations in one day, especially if you focus on Tegallalang, central Ubud, Ketut Liyer's area, and Padang Padang Beach. A one-day tour following a similar route is currently offered, although adding locations such as Lake Batur or lesser-known production areas would be more comfortable with additional time.