

Jl. Plawa No.50, Seminyak, Kec. Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361
CALL US 24/7
(+62-851-7424-6249)
Tersalin!Partner Pembayaran
© 2026 HAK CIPTA CINCHY.
scroll for more! ⟶
Cinchy Blog / Tumpek Kandang / Tumpek Uye: Tradisi Unik di Bali
Diterbitkan: 06 Sep 2026

By Syahrial Maulana Sudarto
Travel Enthusiast

Jawaban Cepat
“What is Tumpek Kandang or Tumpek Uye in Bali?”
Tumpek Kandang, also known as Tumpek Uye, is a Balinese Hindu holy day dedicated to honoring and blessing animals. Celebrated every 210 days on Saniscara Kliwon Wuku Uye, the tradition expresses gratitude for animals and reflects Bali’s philosophy of harmony between humans, nature, and the divine.
Gratis Pembatalan
Dukungan 24/7
Asuransi
Tanggal Mulai - Tanggal Selesai
Waktu Mulai
Waktu Selesai
Durasi
0 Hari
Poin Penting:
Tumpek Kandang atau Tumpek Uye merupakan salah satu tradisi Hindu di Bali yang berfokus pada penghormatan dan pemeliharaan terhadap hewan. Hari suci ini menjadi salah satu rahina Tumpek yang dirayakan berdasarkan sistem kalender tradisional Bali.
Tumpek Uye juga berkaitan erat dengan sarwa wewalungan, istilah dalam budaya Bali yang merujuk pada hewan atau makhluk hidup. Dalam pelaksanaannya, hewan dapat dibersihkan, diberikan persembahan, didoakan, dan mendapatkan tirta sebagai bagian dari upacara.
Tradisi ini berangkat dari pemahaman bahwa hewan memiliki hubungan yang penting dengan kehidupan manusia. Hewan ternak, misalnya, telah membantu masyarakat dalam pekerjaan, kehidupan sehari-hari, sumber pangan, hingga kegiatan keagamaan.
Pemerintah Provinsi Bali juga mengaitkan Tumpek Uye dengan upaya menjaga hewan dan habitatnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tumpek Kandang tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan makhluk hidup.
Ya. Tumpek Kandang dan Tumpek Uye merupakan nama yang umum digunakan untuk hari suci yang sama dalam tradisi Hindu Bali.
Istilah “Tumpek Uye” merujuk pada pelaksanaan hari suci berdasarkan Wuku Uye dalam kalender Bali, sedangkan “Tumpek Kandang” lebih menonjolkan kaitannya dengan hewan ternak atau hewan yang dipelihara.
Karena itu, Anda dapat menemukan perayaan ini disebut sebagai Tumpek Uye maupun Tumpek Kandang dalam berbagai sumber mengenai budaya dan tradisi Bali.
Jika Anda masih ragu tentang langkah selanjutnya, jangan khawatir — kami siap membantu menjawab semua pertanyaan dan kekhawatiran Anda.
Yes. Tumpek Kandang and Tumpek Uye are commonly used names for the same Balinese Hindu holy day associated with honoring animals.
It is celebrated every 210 days on Saniscara Kliwon Wuku Uye, according to the Balinese Pawukon calendar.
Animals can include livestock, poultry, birds, pets, and other creatures. The exact practice varies between families and communities.
No. The ceremony is an expression of gratitude and respect toward animals, while religious worship is directed toward the divine.
Animals have long supported Balinese communities through agriculture, livelihoods, food, religious practices, and their role in the wider ecosystem.
Yes, but visitors should treat it as a religious ceremony rather than a tourist attraction. Observe respectfully, follow local guidance, and ask permission before taking photographs.

Acara di Bali Bulan September 2026: Apa yang Baru?

Ini Aturan Hukum dan Norma Budaya di Bali yang Wisatawan Wajib Tahu

8 Hal yang Harus Dihindari di Bali untuk Liburan Aman & Nyaman

Di Mana Saya Bisa Menemukan Rental Motor Cinchy Bali?

Sewa Motor di Bali dengan Pembatalan Gratis bersama Cinchy

Cinchy Bali: Rental Motor untuk Pemula – Khusus Motor Matic!
Tumpek Kandang juga dikenal dengan beberapa sebutan lain, seperti Tumpek Wewalungan atau Oton Wewalungan, yang sama-sama berkaitan dengan penghormatan terhadap hewan.
Tumpek Kandang dirayakan setiap 210 hari, berdasarkan sistem kalender Bali yang dikenal sebagai Pawukon.
Hari suci ini jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye, yaitu hari Sabtu Kliwon pada Wuku Uye dalam siklus Pawukon. Berbeda dengan kalender Masehi yang memiliki tanggal tetap setiap tahunnya, kalender Pawukon menggunakan siklus 210 hari. Karena itu, tanggal Tumpek Kandang akan berbeda jika dilihat berdasarkan kalender Masehi.
Sebagai contoh, Tumpek Kandang dirayakan pada 5 September 2026.
Pemberitaan Bali pada tanggal tersebut juga menyebutkan bahwa Tumpek Uye atau Tumpek Kandang jatuh setiap 210 hari pada Saniscara Kliwon Wuku Uye.
Karena itu, jika Anda ingin mengetahui kapan Tumpek Kandang berlangsung saat merencanakan perjalanan ke Bali, sebaiknya cek kalender Bali dan jangan hanya mengandalkan tanggal tetap dalam kalender Masehi.
Pada dasarnya, makna Tumpek Kandang berkaitan dengan rasa syukur, penghormatan, kasih sayang, dan keharmonisan antara manusia dengan hewan.
Hewan telah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Bali sejak dahulu. Sapi, babi, ayam, bebek, kuda, dan berbagai hewan lainnya dapat membantu pertanian, transportasi, kehidupan rumah tangga, sumber pangan, hingga pelaksanaan kegiatan keagamaan.
Melalui Tumpek Kandang, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengakui peran tersebut dan menyampaikan rasa terima kasih melalui rangkaian upacara keagamaan.
Namun, maknanya tidak sebatas berterima kasih kepada hewan yang memberikan manfaat bagi manusia. Tradisi ini juga mengajarkan manusia untuk melihat hewan sebagai sesama makhluk hidup yang turut menjadi bagian dari kehidupan dan alam.
Pemahaman tersebut sejalan dengan pandangan masyarakat Bali mengenai pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam, bukan memperlakukannya sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia.
Hewan yang berkaitan dengan Tumpek Kandang dapat mencakup hewan ternak, hewan peliharaan, unggas, dan makhluk hidup lainnya, tergantung pada tradisi keluarga maupun masyarakat setempat.
Beberapa contohnya antara lain:
Rangkaian upacara Tumpek Kandang tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama di setiap tempat. Setiap keluarga atau komunitas dapat memiliki bentuk pelaksanaan dan jenis persembahan yang berbeda, sesuai dengan jenis hewan serta adat setempat.
Hal ini penting untuk dipahami ketika mengenal upacara Hindu di Bali. Prinsip keagamaannya dapat sama, tetapi bentuk pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan tradisi lokal.
Rangkaian upacara Tumpek Kandang dapat berbeda antara satu keluarga, desa, atau komunitas dengan lainnya. Namun, secara umum, perayaannya dapat mencakup persiapan hewan, pembuatan banten, persembahyangan, pemberian tirta, dan doa untuk keselamatan hewan.
Hewan dapat dibersihkan atau dipersiapkan sebelum upacara. Selain menjadi bagian dari persiapan ritual, hal ini juga merupakan bentuk perhatian dan kepedulian terhadap hewan yang dipelihara.
Keluarga menyiapkan banten, yaitu persembahan dalam tradisi Hindu Bali. Bentuk dan susunan banten dapat berbeda berdasarkan jenis hewan dan tradisi setempat.
Persembahyangan dan rangkaian upacara keagamaan dilakukan sebagai bagian dari perayaan. Fokus spiritualnya tetap ditujukan kepada Tuhan, termasuk manifestasi Tuhan yang berkaitan dengan perlindungan terhadap hewan.
Hewan dapat diberikan tirta, yaitu air suci, serta berbagai bentuk pemberkatan lainnya sebagai bagian dari upacara Tumpek Uye.
Rangkaian upacara menjadi bentuk penghargaan kepada hewan sekaligus pengingat akan peran mereka dalam kehidupan manusia dan keseimbangan lingkungan.
Dalam beberapa pelaksanaan Tumpek Uye, kegiatan keagamaan juga dapat disertai kegiatan lain seperti vaksinasi hewan, pelepasliaran satwa, dan kegiatan membersihkan lingkungan.
Banten merupakan bagian penting dalam berbagai upacara Hindu Bali, termasuk Tumpek Kandang.
Jenis banten dalam Tumpek Kandang dapat berbeda berdasarkan jenis hewan dan tradisi masyarakat setempat. Beberapa sumber tradisional menjelaskan adanya perbedaan persembahan untuk hewan ternak dan unggas, sehingga tidak semua hewan mendapatkan susunan banten yang sama.
Karena itu, lebih tepat memahami banten Tumpek Kandang berdasarkan tujuan dan maknanya daripada menganggap setiap keluarga harus menggunakan susunan persembahan yang identik.
Pada dasarnya, banten menjadi bagian dari ungkapan bhakti, rasa syukur, dan penghormatan dalam rangkaian upacara keagamaan.
Sang Hyang Rare Angon merupakan manifestasi Tuhan yang berkaitan dengan perlindungan dan penjagaan terhadap hewan dalam konteks Tumpek Uye.
Dalam upacara ini, pemujaan ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada hewan itu sendiri.
Dalam tradisi Hindu Bali, Sang Hyang Rare Angon juga dikaitkan dengan Sang Hyang Siwa Pasupati, yang memiliki hubungan dengan perlindungan dan pengayoman terhadap makhluk hidup.
Pemahaman ini penting bagi wisatawan yang ingin mengenal Hindu Bali dengan lebih baik. Tumpek Kandang sebaiknya tidak disederhanakan sebagai sekadar “festival penyembahan hewan”, karena makna spiritualnya jauh lebih luas.
Tidak. Tumpek Kandang bukan berarti umat Hindu di Bali menyembah hewan sebagai Tuhan.
Sebaliknya, upacara ini merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada hewan, sedangkan pemujaan tetap ditujukan kepada Tuhan.
Tradisi ini juga mencerminkan prinsip filosofi Hindu Tat Twam Asi, yang secara umum dapat dipahami sebagai “aku adalah kamu, kamu adalah aku”. Dalam konteks Tumpek Kandang, kasih sayang terhadap makhluk hidup menjadi bagian dari kesadaran bahwa kehidupan saling terhubung.
Tumpek Uye juga memiliki hubungan dengan Tri Hita Karana, filosofi Bali yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.
Penjelasan dari tokoh agama Hindu di Bali juga menegaskan bahwa pelaksanaan upacara untuk hewan bukan berarti memuja hewan, melainkan merupakan bentuk penghormatan terhadap ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Secara harfiah, “kandang” berkaitan dengan tempat hewan dipelihara atau dikandangkan. Namun, dalam pemaknaan filosofis Tumpek Kandang, istilah ini memiliki makna yang lebih dalam.
“Kandang” juga dapat dimaknai secara simbolis sebagai upaya mengendalikan pikiran dan sifat liar dalam diri manusia.
Dengan demikian, Tumpek Kandang tidak hanya mengajarkan manusia untuk merawat hewan di luar dirinya. Hari suci ini juga dapat menjadi momentum untuk melihat kembali pikiran, keinginan, dan perilaku diri sendiri agar tetap terkendali.
Makna filosofis ini juga dijelaskan dalam sumber budaya Bali yang mengaitkan “kandang” dengan pengendalian sifat-sifat manusia yang menyerupai sifat hewani, seperti hidup tanpa tata krama, malas, atau sulit mengendalikan keinginan.
Tri Hita Karana merupakan salah satu konsep penting untuk memahami filosofi kehidupan masyarakat Bali.
Konsep ini menjelaskan tiga bentuk hubungan harmonis:
Tumpek Uye memiliki hubungan yang kuat dengan Palemahan karena mengajarkan penghormatan terhadap hewan dan lingkungan alam.
Namun, pelaksanaan Tumpek Uye juga melibatkan hubungan manusia dengan Tuhan melalui persembahyangan dan upacara keagamaan. Karena itu, Tumpek Kandang tidak hanya dapat dilihat sebagai kegiatan pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan kehidupan secara menyeluruh.
Tat Twam Asi merupakan salah satu konsep filosofis Hindu yang menekankan adanya keterhubungan antara diri sendiri dengan makhluk lain.
Dalam konteks Tumpek Kandang, konsep ini membantu menjelaskan mengapa kasih sayang kepada hewan menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.
Ketika hewan dipandang sebagai sesama makhluk hidup dan bukan hanya sebagai sumber daya, kepedulian terhadap hewan menjadi bagian dari tanggung jawab moral yang lebih luas.
Karena itu, Tumpek Uye menjadi salah satu tradisi yang menarik untuk memahami bagaimana masyarakat Bali memandang hubungan antara manusia, hewan, alam, dan kehidupan spiritual.
Dalam perkembangan kehidupan modern di Bali, Tumpek Uye semakin sering dikaitkan dengan pelestarian hewan, perlindungan lingkungan, dan kesadaran terhadap ekosistem.
Dalam beberapa perayaan yang dilakukan pemerintah, kegiatan Tumpek Uye juga diisi dengan pelepasliaran burung atau satwa, vaksinasi hewan, pembersihan lingkungan, hingga kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan habitat.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa nilai Tumpek Uye dapat diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga makhluk hidup dan lingkungan di sekitarnya.
Tradisi ini juga memiliki keterkaitan dengan konsep Sad Kerthi, yaitu nilai dalam budaya Bali yang mendorong upaya menjaga dan menyucikan berbagai aspek kehidupan serta lingkungan.
Dengan demikian, Tumpek Uye memiliki relevansi yang lebih luas daripada sekadar sebuah upacara keagamaan. Tradisi ini juga dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya membangun hubungan yang bertanggung jawab dengan alam.
Ya, wisatawan mungkin menemukan pelaksanaan Tumpek Kandang ketika berkunjung ke Bali, terutama saat berada di desa, komunitas lokal, pura, atau tempat konservasi satwa yang bertepatan dengan hari suci tersebut.
Namun, penting untuk diingat bahwa Tumpek Uye merupakan upacara keagamaan, bukan pertunjukan wisata.
Jika Anda menemukan pelaksanaan upacara saat berlibur di Bali, amati dengan tenang, hormati area yang tidak boleh dimasuki, dan mintalah izin terlebih dahulu sebelum memotret orang, persembahan, atau rangkaian kegiatan keagamaan.
Anda juga sebaiknya tidak menyentuh banten atau mengganggu orang yang sedang melakukan persembahyangan.
Silakan baca artikel ini terlebih dahulu agar Anda memahami etika di Bali dengan lebih baik: Ini Aturan Hukum dan Norma Budaya di Bali yang Wisatawan Wajib Tahu.

Jika Anda berencana menjelajahi Bali dengan motor saat ada acara budaya seperti Tumpek Kandang, Cinchy dapat membantu menyiapkan kebutuhan transportasi Anda sejak sebelum tiba di Bali.
Anda bisa mengecek ketersediaan motor secara real-time melalui website, menentukan tanggal sewa, memilih kategori motor, serta mengatur lokasi pengambilan atau pengantaran sesuai kebutuhan.
Cinchy menyediakan motor yang terawat dan rutin diservis untuk mendukung pengalaman berkendara yang lebih aman dan nyaman. Proses sewanya juga dirancang agar praktis, dengan customer support yang tersedia 24/7 selama masa sewa.
Cinchy juga menyediakan layanan delivery dan pickup di berbagai area Bali. Pengantaran dan pengambilan gratis tersedia di I Gusti Ngurah Rai Airport, Seminyak, Kuta, dan Legian, sedangkan Canggu, Sanur, dan Nusa Dua tersedia dengan biaya tambahan.
Cinchy memiliki dua kategori motor utama yang dapat dipilih sesuai kebutuhan perjalanan dan budget Anda.
Kategori Compact terdiri dari:
Harganya mulai dari IDR 95K/hari, IDR 80K/hari untuk sewa mingguan, dan IDR 50K/hari untuk sewa bulanan.
Kategori Comfort terdiri dari:
Harganya mulai dari IDR 155K/hari, IDR 125K/hari untuk sewa mingguan, dan IDR 80K/hari untuk sewa bulanan.
Jika Anda berencana mengunjungi Bali saat peak season, sebaiknya lakukan reservasi lebih awal karena ketersediaan motor dapat lebih terbatas.
Anda juga bisa menggunakan kode EARLY5 untuk mendapatkan diskon 5% jika melakukan booking setidaknya satu bulan sebelumnya.
Cinchy menyediakan pilihan perlindungan Basic Coverage, Full Coverage, dan VIP. Basic Coverage memiliki deductible untuk biaya perbaikan, sedangkan Full Coverage memberikan zero deductible untuk kerusakan yang ditanggung seperti goresan dan kerusakan akibat kecelakaan. VIP juga mencakup perlindungan terhadap pencurian, dengan mengikuti mandatory theft protocol.
Cinchy menyediakan beberapa pilihan pembayaran, termasuk kartu kredit, kartu debit, COD, QRIS, dan pembayaran menggunakan mesin kartu.
Jika Anda berencana menjelajahi Bali saat Tumpek Kandang, menghadiri upacara adat lainnya, atau sekadar ingin lebih bebas berkeliling pulau, Anda dapat mengecek ketersediaan motor Cinchy secara real-time, memilih kategori Compact atau Comfort, lalu melakukan reservasi lebih awal. Lakukan booking minimal satu bulan sebelumnya dan gunakan kode EARLY5 untuk mendapatkan diskon 5%.